Bincang-Bincang Seputar Garage Punk Bersama Om Robo

Foto: Akun Instagram Resmi Om Robo @omrobo

jalurmusik.com - Garage Punk adalah sebuah genre musik keras yang sebenarnya sudah sejak lama ada di tahun-tahun lampau. Anak-anak muda yang memainkan musik ini berangkat dari kecintaan yang diwujudkan lewat musik yang dimaknai kebebasan dalam ekspresi musik.

Teknis produksi dalam penggarapan musik-musik bergenre Garage Punk seolah tidak matang, akornya pun tidak sulit. Selain itu, musik ini juga terkesan mentah secara sound, busuk dan tidak rapi.

Tema yang diangkat dalam lirik Garage Punk berbeda dengan musik Punk yang biasanya lirik-lirik dalam lagunya didominasi oleh tema-tema perlawanan dan pemberontakan terhadap suatu nilai yang ada. Musisi Garage Punk sendiri sebenarnya adalah lagu-lagu yang bertemakan cinta, namun dibawakan dengan cara yang gahar.

Nama-nama band yang memainkan musik ini diantaranya Black Lips, The Cramps, Dead Moon, Destroy Boys, The Dirtbombs, The Gories, Grazhdanskaya Oborona, The Hellacopters dan The Mummies.

Pada kesempatan kali ini, Jalur Musik mendapat kesempatan banyak untuk berbicara dengan Om Robo, gitaris dari band asal Lombok, Sundancer. Sebuah band Garage Punk yang ia bentuk pada 2018 lalu untuk menyalurkan hasratnya pada musik.

Tak lama setelah band ini terbentuk, mereka merilis sebuah album mini yang berjudul Musim Bercinta. Tak puas hanya merilis album mini, mereka nekat memperkenalkan musik mereka kepada para pendengar yang lebih luas. Pada November tahun lalu, mereka membuat tur yang dinamai Gelombang Cinta Vol 1. Enam bulan berikutnya, Sundancer kembali menggelar tur volume kedua mereka dengan nama yang sama.

Om Robo konsisten memainkan musik ini sejak puluhan tahun lalu. Pada 2000-an awal, ia pernah berperan sebagai El Capitain di band Garage Punk bernama Southern Beach Terror bersama Voodoo Guru dan Saiko Kido (yang kabarnya solois Frau). Band ini kandas di tengah jalan dan akhirnya ia memutuskan untuk menetap di Lombok. Selama di Lombok, ia sempat tidak melakukan aktivitas bermusik nyaris sepuluh tahun lamanya, sebelum akhirnya memutuskan untuk bermusik kembali yang ditandai dengan terbentuknya Sundancer.

“Ya namanya juga Garage Punk, ia akan mati, namun berpuluh tahun kemudian akan ada yang menggali,” canda lelaki yang selalu mengenakan topeng ala lucha libre di atas panggung ini. Berikut hasil obrolan kami dengan Om Robo.

Bagaimana awal mulanya muncul genre Garage Punk?

Garage Punk itu lebih kepada istilah yang dibuat oleh wartawan. Dibuat oleh wartawan untuk mengklasifikasikan musik-musik yang berkembang di tahun 1960-an, yang menurut mereka ini Punk nih. Ditahun 1960-an belum dikenal istilah Punk. Jadi musik-musik tahun 1960-an, itu cikal bakalnya Punk. Garage Punk sendiri sudah ada sejak lama, lebih tua dari yang biasa dikenal dengan Protopunk. Intinya itu cuma istilah (tertawa), yang dibuat sama orang untuk mengklasifikasikan. Akarnya ya tadi, musik tahun 60-an.

Seiring berjalannya waktu kan musik Garage Punk sendiri menjadi lebih berkembang,  banyak anak-anak muda yang dengan keterbatasan membuat musik, hingga mereka membuat bermain musik di garasi rumahnya, apakah seperti itu?

Kurang lebih seperti itu. Band-band Garage Punk yang berkembang, punya semacam anggapan mendengarkan The Beatles dan Rolling Stones, cuma karena keterbatasan skill dan alat, akhirnya mereka memutuskan tetap menyanyikan lagu-lagu seperti itu. Energinya tentu berbeda. Sound dan geregetnya juga berbeda.

Kalau secara tema, bagaimana?

Temanya lagu cinta semua. Serius (tertawa). Sampai Kamu nyari band Garage Punk paling tua sekalipun temanya ya tetap cinta. Enggak ada mengenal apolitik, atau perlawanan seperti Punk Rock pada umumnya.

Kenapa berbeda dari tema-tema Punk lainnya?

Bukannya berbeda. Tapi lebih kepada gereget. Pernah suatu ketika, ada kolektor yang menemukan sebuah band dari Peru, ketika mereka mendengarkan musiknya bagus sekali. Punk banget lah pokoknya. Namun, ketika didengarkan liriknya, itu lagu cinta semua, cara pembawaanya yang berbeda. Nama bandnya Los Saicos, cari deh (tertawa).

Bagaimana dengan perkembangan Garage Punk di Indonesia? Kenapa kita susah mencari refrensi untuk mengulik musik ini ke belakang?

Bukannya susah. Tapi tidak ada database siapa-siapa saja yang memainkan musik ini. Beda kasusnya dengan yang terjadi di luar negeri, ada band namanya The Cramps. Vokalis dan gitarisnya termasuk orang yang rajin mencari sejarah musik-musik buram seperti ini. Kerjaan mereka pergi-pergi ke record store untuk mencari rilisan dari zaman yang antah-berantah. Hobi mereka itu, terus mereka aplikasikan apa yang mereka dapat ke band mereka. Menjadi khazanah dan wawasan baru jadinya. Mereka membawakan ulang lagu-lagu legendaris yang mereka temukan, orang-orang berpikir itu lagunya dia, ternyata bukan. Sayangnya, di Indonesia enggak ada yang sepert itu.

Ada tidak sih, band Garage Punk yang cukup popular?

Ada. Dulu aku pernah mendapat kesempatan waktu masih kuliah di Jogja, salah satu temenku punya bapak, bapak itu punya band dan sempat rekaman. Terus aku dengar lagunya, bagiku itu Garage Punk. Sayang aku lupa namanya dan enggak ada kontak lagi sama temanku yang itu. Keren banget itu.

Di atas tahun 2000, muncul band-band Garage Punk, termasuk bandmu dulu. Saat ini sudah mulai banyak anak-anak muda yang memainkan musik yang mendekati Garage Punk. Kira-kira apa yang menyebabkan musik ini pelan-pelan bisa berkembang?

Aku sebenarnya kenal Garage Punk ini karena kena wabah dari luar dulu seperti The Strokes. Akhirnya aku cari informasi terus sampai yang paling dalam. Semuanya kudengarkan untuk mencari energinya.

Kalau menurut analisamu, saat ini munculnya band-band seperti tersebut, apakah mereka diuntungkan karena disituasi ini, musik-musik yang katanya indie itu sedang digemari oleh anak-anak muda?

Aku pikir wabah atau tren itu ngaruh besar. Anak-anak ini juga kena wabah musik Garage Punk. Kalau respon, aku sangat senang dengan munculnya band-band tersebut. Dulu gue kayak pionir-pionir gitu mainin musik ini, sekarang udah ada pelanjutnya. Dulu teman gue di Myspace, orang luar semua (tertawa). Kalau sekarang contohnya kayak gini, waktu aku bertemu sama anak-anak The Panturas, mereka cerita terinspirasi dari Southern Beach Terror, band gue yang dulu. Gue senang dan kaget dong. Itulah yang gue mimpikan dulunya. Band gue jadi pemantik buat orang-orang dan ada generasi pelanjut. Itu udah oke banget menurut gue.

Telinga orang kita cukup ramah enggak mendengarkan musik-musik seperti ini?

Kalau di Indonesia mah yang penting ada vokalnya, lo bikin musik apa saja bisa lah (tertawa). Karena pilihan nada di Garage Punk cukup bisa ditangkap. Orang dengerinnya menarik sih karena tipe nadanya.

Apa harapanmu ke depan untuk musik Garage Punk?

Enggak ada (tertawa). Tapi gue yakin, suatu saat dia akan mati dan dikubur lagi. Kemudian suatu saat atau berpuluh tahun kemudian ada anak-anak yang menghidupkan lagi. Iklimnya seperti itu. Formulanya seperti itu (tertawa).

Begitupula dengan bandmu ya?

(Tertawa) belum mati. Bisa jadi nanti habis album pertama gue tutup dulu deh.

Comments

Leave a Comment