Monica Hapsari Bermusik dengan Merdeka

Foto: Rio Jo Werry/dok. jalurmusik.com

jalurmusik.com Monica Hapsari  seorang penggiat seni sekaligus juga penyanyi yang percaya bahwa karya berjalan seiring dengan hatinya. Memulai hobi bermusiknya di usia remaja, Monica Hapsari ketika itu mulai berkenalan dengan musik. Perjalanan panjang musiknya yang sudah puluhan tahun, idealnya tentu telah menghasilkan banyak karya atau album dalam bidang musik. Tapi, beda ceritanya saat membahas seorang Monica Hapsari. Nyatanya menyelesaikan album merupakan tugas yang belum tertunaikannya hingga kini, baru terpikir tepatnya. Lebih mengejutkannya, seakan tak ingin muluk-muluk, perilisan album baru bahkan belum terprediksi olehnya, kapan waktu pastinya. 

Ia memiliki banyak kerumitan di dalam kepalanya. Telalu banyak hal yang terpikir, tersirat. Menurutnya, skill musiknya pun menyedihkan, ia hanya pandai beberapa kord. Konyolnya, lupa kord lagunya sendiri pun tak jarang terjadi.

“Gue gak merasa perlu ingat kord-kord lagu gue,” ungkap Monica terang-terangan.

Anehnya, ketika mendengarkan lagu-lagunya, atau melihatnya penampilannya di atas panggung, Monica cukup pandai menata bunyi dan karyanya di atas panggung hingga penonton menangkap pesannya sebagai sosok yang amat serius membawa misi berkaryanya. Ia selalu tampil mengesankan baik secara musikal ataupun visual dengan balutan emosi yang tak main-main.

“Jam sembilan kan wawancaranya?” kata Monica satu jam sebelum jadwal saya mewawancarainya. 

Saya menemuinya di sebuah kedai kopi kawasan Kemang bernama coffewar, tempat ia banyak menghabiskan waktu untuk minum kopi atau sejenak bertukar pandang bersama sejawatnya. Hari itu ia tak sendiri, Monica datang bersama seorang kawannya dengan pakaian hitam ‘khas’nya sambil menyapa saya dengan santai. Pembicaraan kami pun berlanjut dengan sebuah sesi tanya jawab perihal dirinya dan perputaran waktu dalam karya.

Pertanyaan yang menyebalkan, sejak kapan menggeluti musik?

Gue punya band dari SMA. Band pertama gue sama Dimas Ario (baca: manajer Efek Rumah Kaca). Terus di 2004 punya band namanya Voyagers of Icarie, itu band masih ada sampai sekarang. Punya album pun enggak sampai sekarang (tertawa). Tapi masih sering main kok, kemarin di Studiorama dan Superbad masih main. Terus ngeband sama personil yang cewek semua juga pernah. Terus kemudian lanjut bantuin Efek Rumah Kaca dan Pandai Besi. Setelah berbekal perjalanan panjang, memutuskan untuk membuat proyek musik sendiri nampaknya dirasa sangat pas saat itu.

Lo juga dikenal bergelut di bidang visual, mana yang lebih dulu, terjun ke bidang visual atau musik?

Musik dulu. Gue merasa lebih nyaman di musik sih, dibanding visual. Di visual gue gak merasa gue bagus di visual, sejujurnya. Ya, di musik juga biasa-biasa saja, tapi gue merasa musik kayak zona nyaman gue. Lebih jelas musik gue, daripada visual gue.

Kalau seperti itu, kenapa tidak memilih kuliah di musik saja dulu?

Karena susah masuk ITB (tertawa). Kata orang kan masuk ITB kan susah, jadi gue suka gitu, gue coba, gue pengen tahu. Terus masuk, ya sudah.

Tapi saat ini, lo lebih menikmati yang mana diantara keduanya?

Dua-duanya. Enggak bisa dipilih. Menurut gue itu semua tergantung kapasitas orangnya dan tahu lo mau ngomongin apa di masing-masing itu. Begini nih, gue mau cerita dulu, karya visual gue kebagi menjadi dua, yang satu ilustrasi banget, yang satu lagi yang kontemporeri. Nah, musik solo gue itu sejalan sama yang kontemporeri. Gue ngomonginnya hal yang sama.

Berarti lo diuntungkan dengan dua bidang yang lo jalani bersamaan ini?

Ada. Keuntungannya gede banget. Maksud gue gini, proses berkesenian gue, di musik terutama, semua lagu gue itu visual dulu yang keluar di kepala gue. Bukan nada. Jadi gue ngebayangin kejadiannya. Di lagu gue itu awalnya muncul secara visual, ada fragmen-fragmen. 

Contohnya di salah satu lagu gue yang berjudul Pulang, itu ada satu kejadian yang terjadi di hidup gue, kejadiannya taruhannya nyawa lah pokoknya. Habis itu gue kebayang satu visual yng awalnya gue merasa tiba-tiba gue ada di Mesir, jalan kaki di padang pasir ribuan tahun yang lalu. Di liriknya kan ada tuh, bintang utara tunjukan arah, itu gue melihat bintangnya. Orang zaman dulu kan kalau mencari arah kan melihat bintang. Jadi gue baca bintang, gue harus jalan kemana. Gue enggak pernah ke Mesir, tapi gue tahu situasinya.

Semua lagu berangkat dari visual, apakah ada kesulitan? Sebab adanya kata-kata yang terbatas ketika muncul dari visual.

Hmm... Menurut gue, lirik lagu gue, gue sedang tidak berpuisi. Gue sama sekali gak bisa bikin lirik. Sumpah mati. Tapi itu semua kan harfiah. Kayak di lagu Pulang, gue memang beneran mencari jalan pulang. Di fragmen itu gue merasa gue enggak sampai-sampai ya.

Itu mimpi?

Enggak. Mungkin gue suka berkhayal, gitu saja deh jawabannya biar aman (tertawa). Tapi itu nyata, gue nangis dan enggak mengerti sama keadaan ini lama-lama. Dari situ, musik gue jadinya tentang gambaran itu. Contoh kasus, kenapa di lagu gue ada banyak backing vocal, karena gue merasa semua itu ramai sekali di kepala gue, tapi tempat itu terlalu luas. Sampai ke hasil mixing gue buat suasananya seperti di padang pasir.

Apakah musik lo mengekang kebebasan?

Iya. Terkekang. Gue terkekang sama diri gue sendiri. Gue tidak merdeka.

Apa arti kemerdekaan untuk seorang Monica Hapsari?

Ini penting, manusia yang merdeka bagi gue adalah manusia yang bisa menaklukan egonya sendiri. Enggak ada urusan sama dunia luar. Ketika lo enggak bisa menaklukan ego lo sendiri, lo bukan manusia yang merdeka. 

Dalam konteks bermusik, apakah bebas sama artinya dengan merdeka?

Dalam konteks bermusik, gue sekarang terkekang sama teknis. Penjara gue skill,karena gue kan enggak punya skill. Gue mengakui itu terus terang. Tapi karena ketidakmampuan itu membuat gue mengakali itu semua. Emang yang boleh manggung yang jago doang? Enggak kan. Nih, balik lagi ke cerita kita tadi, keterkekangan kadang membuat kita mengakali keadaan. Di lagu gue Mantra,itu kan cuma vokal doang kan ya. Orang-orang pada bilang itu keren dan bukan hal yang pernah terpikir sebelumnya, kata mereka. Itu terjadi karena keadaan lagi deadline, dan gue enggak bisa main alat musik.

Comments

Leave a Comment