Megan Colleen O’Donoghue Sang Sinden Asal Amerika Serikat

Foto: akun Facebook resmi Megan Colleen O’Donoghue

jalurmusik.com  - Indonesia tidak hanya kaya sumber daya alamnya, tapi juga kaya akan kesenian dan budaya tradisionalnya. Tidak lah berlebihan bila Indonesia kaya akan kesenian, tiap-tiap daerah di Indonesia mampu menyumbangkan kesenian yang berbeda dan sarat akan makna asal usul di dari daerah tersebut.

Di pulau Jawa misalnya, alat musik gamelan yang khas Jawa bahkan menjadi salah satu kesenian kebanggaan Indonesia. Dalam sebuah set lengkap, gamelan yang merupakan satu kesatuan beberapa alat musik ini menonjolkan bunyi-bunyian yang dihasilkan dari saron, demung, peking, gambang, gong, dan kendang. Irama musik lembutnya pun menjadi cerminan keselarasan hidup, seperti nilai-nilai yang dianut oleh orang Jawa.

Sedangkan sang penyanyi yang mengiring gamelan dikenal dengan sebutan sinden atau pesinden. Pesinden dalam gamelan umumnya mempunyai komunikasi yang baik dengan penonton dan kemampuan vokal yang "istimewa" untuk menyanyikan tembang. 

Tidak hanya orang Jawa saja yang menyukai musik ini, gamelan yang khas Jawa ini pun menarik berhasil mencuri perhatian seorang perempuan berkebangsaan Amerika Serikat bernama Megan Colleen O’Donoghue . Mengutip dari VOA, awalnya Megan memutuskan untuk mengikuti program Darmasiswa di bawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia setelah lulus kuliah dari Cornish College of the Arts di Seattle tahun 2008 dengan jurusan seriosa. Program Darmasiswa ini menawarkan beasiswa selama satu tahun kepada warga asing yang ingin mempelajari kebudayaan Indonesia. Pada saat itu Megan berkesempatan menekuni ilmu di Institut Seni Surakarta di Solo dan mengambil jurusan Karawitan selama satu tahun.

Selama di Solo, Megan tinggal bersama mendiang maestro sinden, Nyi Supadmi, yang juga adalah gurunya. Melalui interaksi dengan para murid yang juga kos di rumah mendiang Nyi Supadmi, perempuan multitalenta ini jadi bisa memperlancar kemampuannya berbahasa Indonesia.

Atas pengalaman selama di Solo itulah yang membuatnya memutuskan mendalami musik gamelan dan menjadi pesinden.

Megan mengakui bahwa ia tidak fasih berbahasa Jawa. Tapi sebagai penyanyi, ia sudah terbiasa menjiwai setiap lagu yang ia nyanyikan. Usai mengikuti program beasiswa, Megan memutuskan untuk menikah dengan pemain Keroncong asal Indonesia. Ia juga kembali ke negara asalnya, Amerika Serikat selama dua tahun, sebelum pada akhirnya kembali lagi ke Indonesia tahun 2012.

Dilansir dari VOA, di tahun 2015, Megan telah merilis album perdananya yang berjudul Peshawar hasil kolaborasinya bersama kelompok musik Gemati saat di Indonesia. Album yang bernuansa musik rakyat atau folk, keroncong, dan karawitan, dengan campuran lirik dalam bahasa Inggris, Indonesia, dan Jawa dalam bentuk 9 buah lagu. 

Sayangnya, Megan dan putrinya memutuskan kembali ke Amerika Serikat di tahun 2016. Jauh dari Indonesia Megan tak lantas melupakan cintanya pada kebudayaan Indonesia.

Terbukti saat ini dikabarkan pesinden yang juga pernah berkolaborasi dengan Ki Sujiwo Tejo, Ki Manteb Sudharsono dan Ki Enthus Susmono ini rencananya akan mengeluarkan  sebuah album baru yang akan menyuguhkan nuansa Indonesia yang dibalut oleh beragam nuansa musik di dalamnya. 

Comments

Leave a Comment