Article Image Sumber: Instagram/@polkawars

Ulasan Album: Peneguhan Jati Diri Polka Wars Melalui Album Terkini, 'Bani Bumi'

Ikuti petualangan salah satu penulis Jalur Musik, Peter Rumondor, dalam mengarungi epos audio yang dihasilkan album terbaru Polka Wars.


jalurmusik.com – Dalam kritik yang ideal, tentunya kritikus harus melepaskan segala prasangka terhadap karya tersebut. Untungnya artikel ini bukan kritik ataupun penilaian. Ini adalah sebuah jurnal dalam perjalanan epos menuju pengalaman unik menikmati sebuah album rekaman.

Sebelum melanjutkan artikel ini, ada beberapa hal yang sebaiknya Anda lakukan untuk mendapatkan pengalaman serupa, yaitu: 

  1. Berhenti melakukan pekerjaan lainnya
  2. Isolasi diri Anda dari distraksi selama minimal 50 menit kedepan.
  3. Siapkan kudapan, minuman dan cari posisi yang nyaman.
  4. Siapkan dan gunakan earphone/headset/speaker terbaik yang bisa Anda dapatkan.
  5. Selesaikan album Polka Wars sebelumnya yang dirilis tahun 2015, Axis Mundi (opsional)
  6. Apabila Anda sudah merasa siap, putar Bani Bumi dan biarkan perjalanan dimulai.

Sekali lagi ini merupakan jurnal perjalanan. Setiap orang pastinya bisa memiliki pengalaman yang berbeda, namun sepertinya pengalaman berikut ini memang sesuatu yang diharapkan oleh para seniman di balik album tersebut.

“Bani – Intro” merupakan pemanasan, persiapan untuk memulai perjalanan yang nampaknya akan menjadi perjalanan epos album ini. Ini merupakan versi mega dari trek selanjutnya, "Fatamorgana".

Berangkat tanpa ekspektasi, pendengar akan melewati “Fatamorgana” dan “Avatar”, dua nomor yang sangat mewakili persepsi pendengar terhadap Polka Wars, grup musik Rock Alternatif dengan musik yang cukup agresif. Suasana Axis Mundi mungkin masih bisa dirasakan di dua trek ini.

Lalu muncul “Suar” yang menampilkan Sandrayati Fay. Kedatangannya tidak tiba-tiba, namun mengejutkan. Terdapat transisi sangat melarutkan yang terkandung dalam nomor sebelumnya, “Avatar”, menghubungkan dua nuansa berbeda. Padahal ini baru mencapai sekitar delapan menit pertama dalam perjalanan ini. 

“Suar” pernah dirilis sebulan sebelum Bani Bumi resmi dilepas. Penggemar Polka Wars pun pastinya sudah mendengar lagu ini lebih awal, namun terpisah dari album. Tanpa disangka, pengalaman yang didapat ternyata jauh berbeda apabila kalian sudah tiba pada nomor ini.

Nomor ini merupakan salah satu nomor yang agak santai, menemani “Mandiri”, “Rimba” dan “Temaram”.

Berakhir dengan bunyi lonceng yang disambut dengan genjrengan gitar yang mengekspresikan nuansa lebih berenergi, muncul “Bunga”, “Alkisah” dan “Mapan”.

Nomor “Alkisah” mengandung progresi keminor-minoran yang menimbulkan perasaan aneh khas Polka Wars pasca-"Rangkum". Penempatannya sangat tepat, di antara dua trek antemik dengan nada-nada yang mudah dicerna dan terdengar lebih “Pop”.

Namun perasaan aneh tadi seketika kembali setelah melewati “Mapan”. Tapi kali ini lebih menenangkan. “Terai” dipenuhi dengan genjrengan gitar yang renyah diiringi dengan dentuman bass dan drum dan dilengkapi dengan alunan piano juga detakan lead gitar elektrik serta harmonisasi suara-suara ambience di belakangnya yang semakin menggugah emosi. Emosi yang mana, agak sulit untuk dijelaskan. 

Di titik ini semuanya sudah bercampur aduk. Kita sudah melewati lebih dari setengah perjalanan ini. Tapi jangan khawatir, karena perjalanan lanjutannya tidak akan mengecewakan.

Pendengar seakan diajak untuk beristirahat melalui pembukaan nomor “Mandiri”, walaupun tetap memancing emosi dengan aransemen yang minimalis. Nomor ini mengajak untuk fokus kepada vokal Karaeng Adjie yang diiringi oleh alunan seksi instrumen-instrumen yang perlahan bertambah ramai.

“Rimba” merupakan nomor ke-4 sebelum penghujung Bani Bumi. Di titik ini persepsi terhadap Polka Wars sudah berubah, dari grup Rock Alternatif asal Jakarta yang memainkan musik agresif menjadi seniman yang berusaha untuk terus meningkatkan tingkat dan kemampuan mereka dalam mengekspresikan emosi ke dalam suatu karya.

Nomor ini terdengar familiar dengan nuansa Pop lamunan berkat suara-suara modulasi yang terdapat pada beberapa instrumen. Walaupun sudah bisa ditemukan pada nomor-nomor sebelumnya, nuansanya lebih kental dalam “Rimba”.

Dilanjutkan dengan salah satu nomor yang sudah lebih dulu mendapatkan apresiasi dari publik untuk lagu serta video musiknya. “Rekam Jejak” mengingatkan kita kembali pada Polka Wars yang lebih agresif. Nampaknya ditempatkan sebelum penutupan album ini sebagai ajakan agar pendengar tidak melupakan sisi agresif tersebut.

Tepat sebelum “Bumi – Outro” terdapat “Temaram”, lagu penutup yang menenangkan.

Di sinilah semua perasaan tenang yang dibangun oleh trek “Temaram” akan dihancurkan melalui gesekan dawai-dawai yang menggugah perasaan cemas. Ini bukan penutup album yang baik.

Nomor terakhir dari lagu ini tidak diciptakan untuk membuat pendengar melanjutkan aktivitas dengan tenang. Apabila Anda ingin perjalanan ini berakhir tenang, berhentilah pada trek “Temaram”. Jika melanjutkan, kalian harus menerima konsekuensi untuk mendengarkan ulang album ini. Karena nomor terakhir sepertinya memang diciptakan untuk mengobrak-abrik perasaan yang sudah dibangun sejak 50 menit kebelakang, membuat kita merasa seperti ada yang belum terselesaikan.

Dan bukan kebetulan, nomor terakhir dalam album ini tersambung dengan manis dengan nomor “Bani – Intro”, membuat pendengar semakin yakin bahwa album ini memang dirancang untuk diputar dalam mode pengulangan.

Jujur, jika pendengar jarang memerhatikan ataupun membedah lirik-lirik puitis yang implisit, akan sulit untuk paham terhadap cerita yang ingin disampaikan dalam album ini. Namun, hal tersebut tidak jadi masalah karena justru akan menjadi hal yang seru untuk dipelajari.

Pernahkah kalian membeli minuman atau makanan yang sangat lezat sehingga membuat kalian menahan diri untuk tidak langsung menghabiskannya? Itulah perasaan yang muncul setelah menyelesaikan album ini untuk yang ke-4 kalinya.

Lirik-lirik berbahasa Indonesia agak susah dicerna untuk orang yang kurang peka terhadap lirik pada musik, namun bisa jadi hal yang baik karena ia akan memiliki waktu banyak untuk terus mendengarkan lagu-lagu dalam album ini dan akan selalu menemukan hal baru di dalamnya.

Penikmat album yang belum paham apa sebenarnya cerita di balik album ini mempunyai kesempatan untuk merasa takjub lagi dengan informasi baru terkait album ini.

Di beberapa tempat, terutama sepanjang "Mapan", kita bisa menikmati gumaman 60 siklus yang dihasilkan oleh arus bolak-balik pada frekuensi listrik utama. Mungkin ini bukan hal yang disengaja atau malah merupakan sesuatu yang kecolongan. Namun hal tersebut mengingatkan kembali bahwa album ini disusun dan diproses oleh manusia yang memiliki cacatnya masing-masing.

Sebelumnya mereka telah merilis beberapa nomor seperti “Mandiri”, “Mapan”, “Rekam Jejak” dan “Suar”. Namun mendengar lagu-lagu tersebut dalam susunan album ini merupakan sebuah pengalaman yang sangat berbeda.

Bani Bumi merupakan gerbang yang tepat untuk memulai galian anda ke dalam lubang kelinci. Lagu-lagu di dalamnya terasa sangat cocok satu sama lain, membuat impresi bahwa album ini memang disusun sebagai sebuah album dengan konsep yang kuat dari awal.

Bahkan kalian bisa memulai album ini dari mana saja dan biarkan mengalir terus menerus. Namun apabila kalian memutar album ini pada media digital dalam mode repeat, perjalanan kedua dan seterusnya akan membuat “Intro – Bani” (dan lagu-lagu selanjutnya) semakin emosional. 

Seperti sudah diungkapkan sebelumnya, album ini merubah persepsi penggemar terhadap Karaeng Adjie (vokal, gitar), Billy Aulia Saleh (gitar), Xandega Tahajuansya (bass) dan Giovanni Rahmadeva (drum). Bani Bumi mencerminkan kedewasaan mereka dalam bermusik.

Baca Juga:

Simak Cuplikan Album Baru Polka Wars, 'Bani Bumi'

Beberapa Rilisan Album Domestik Hingga Pertengahan Tahun 2019