Article Image Sumber: Ilustrasi Peter Rumondor

Kolom: Media Sosial dan Secuil Perubahan Industri Musik Akibat Perkembangan Teknologi

Pertukaran informasi yang begitu cepat membuat begitu banyak musik tersaji dalam berbagai piring besar. Saat ini, salah satu piring terbesar tersebut adalah media sosial.


jalurmusik.com – Kemajuan teknologi memang berdampak besar pada revolusi yang terjadi di dunia secara global. Dampak tersebut memengaruhi banyak aspek dalam kehidupan manusia. Mulai dari hal-hal besar seperti penemuan baru di bidang ilmu pengetahuan roket, bidang industri teknologi, hingga hal-hal kecil seperti pola konsumsi masyarakat di bidang hiburan atau lebih spesifik lagi, konsumsi musik. 

Pertukaran informasi yang begitu cepat membuat begitu banyak musik tersaji dalam berbagai piring besar. Saat ini, salah satu piring terbesar tersebut adalah media sosial. 

Meliputi Facebook, Youtube, Instagram, Twitter, SoundCloud dan masih banyak lagi, media sosial menjadi wadah yang sangat besar, di dalamnya meliputi banyak sekali karya dari seniman-seniman yang menumpuk berlapis-lapis.

Mungkin belakangan sering muncul kabar di mana orang-orang merasa tertekan dengan hadirnya media sosial dalam hidup mereka, bahkan di mana-mana berdatangan pergerakan-pergerakan ataupun idealisme antimedia sosial. Namun dibalik itu, media sosial sebenarnya merupakan sebuah alat yang sangat ampuh untuk para seniman di era globalisasi ini. 

Dengan landasan yang kuat, seniman yang baik, yang melihat karya-karyanya tidak hanya dari sisi seni namun juga dari sisi bisnis, bisa memperoleh paparan hingga ke pelosok dunia tanpa mengeluarkan uang yang berarti.

Inilah yang menjadi salah satu alasan munculnya musisi-musisi yang memasarkan musiknya secara mandiri. Berbeda dengan kondisi 15 tahun yang lalu, di mana seniman sangat berharap dan bergantung dengan bantuan label rekaman, perusahaan yang memiliki jalur distribusi serta akses ke media-media untuk promosi.

Bukan berarti perusahaan-perusahaan label rekaman besar sudah tidak berperan lagi di era ini, hanya saja perannya sedikit bergeser dan dengan cara kerja yang juga berbeda. 

Salah satu contohnya adalah proses scouting, proses di mana pihak label (biasanya Artist & Repertoire atau Produser) mencari bakat-bakat segar untuk diarahkan lewat jalur dan pengetahuan bisnis yang sudah dijalankan dan diteliti perusahaan tersebut selama bertahun-tahun.

Selain melalui demo rekaman yang diterima, proses scouting zaman dulu memaksa pihak-pihak label untuk terjun ke lapangan, ke panggung-panggung di pelosok kota hingga pertunjukan pada bar berasap. Itulah mengapa kebanyakan musisi di Indonesia era itu memiliki pengalaman panggung yang kuat. 

Musisi-musisi seperti Astrid Sartiasari, Ariel Noah dan Iwan Fals memunyai rekam jejak penampilan yang panjang pada kafe-kafe bahkan jalanan hingga akhirnya ditemukan oleh pihak industri.

Percepat sekitar 15 tahun kemudian, semenjak teknologi semakin canggih dan mudah diakses, perusahaan-perusahaan label rekaman bisa mengakses musisi-musisi hingga ke pelosok kota di Indonesia melalui media sosial. 

Berbeda dengan musisi-musisi muda seperti Hanin Dhiya, Rahmania Astrini dan Adikara Fardy yang juga memiliki rekam jejak penampilan yang panjang namun penampilan mereka besar di media sosial. Pihak label pun menemukan mereka lewat topik-topik trending dan jumlah tayangan terbanyak di sana.

Hal tersebut bukanlah sesuatu yang buruk, hanya saja seperti yang sudah disebutkan di atas, cara kerjanya sudah berbeda sebagai dampak dari kemajuan teknologi. Ini pun bukan hal yang baru. Dunia memang sudah berubah, artikel ini hanya bertujuan untuk mengingatkan para seniman bahwa kita tidak lagi bisa mengacu kepada cara-cara konvensional dan harus selalu berinovasi untuk bisa sukses di industri musik. 

Walaupun banyak hal yang sudah berubah, ada satu hal yang tetap sama. Untuk bisa meraih perhatian publik, seorang seniman harus memiliki etos kerja yang baik dan materi dasar yang bagus, entah itu kejujuran dalam bermusik, kharisma di atas panggung ataupun kemampuan yang mempuni. Ya, memang gabungan dari semua faktor tersebut akan menghasilkan seniman yang ideal. Intinya, seperti petuah yang diucapkan oleh Pele.

Kesuksesan bukanlah sesuatu yang tidak disengaja, tapi kerja keras, ketekunan, pembelajaraan, pengorbanan dan hasrat akan sesuatu yang kalian lakukan.

Hal ini sebenarnya menjawab keresahaan publik terhadap seniman “karbitan”, alias seniman yang terkenal dengan sangat cepat melalui proses yang tidak benar. Apa sebenarnya proses yang tidak benar itu? 

Sebelum ada yang tersinggung, pada artikel ini akan dijelaskan bahwa karbitan bisa menjadi hal yang baik apabila seniman tersebut memiliki dasar yang baik pula untuk mempertahankan ketenaran dan menjaga integritasnya sebagai seorang seniman.

Mungkin kasus Shinta & Jojo yang sempat meledak lewat video lipsync-nya bisa menjadi contoh yang baik, di mana mereka memilih untuk tidak melanjutkan karier di dunia hiburan setelah perlahan-lahan meredup.

Berbeda dengan Syahrini. Alih-alih meroket dengan bantuan rekan-rekannya yang berkuasa di bidang industri, ia bisa mempertahankan reputasinya sebagai seorang seniman dengan konsistensinya dalam berkarya. Syahrini memiliki etos kerja yang baik. 

Ya betul, Syahrini adalah contoh seniman yang sukses. Ia melihat musik lebih dari sekedar musik, ia melihat bisnis di baliknya. Walaupun pastinya peran uang juga sangat berpengaruh dalam kasus ini, namun seniman memang harus dekat dengan dunia bisnis apabila ia ingin karyanya memiliki dampak bagi dunia.

Seperti kata Rick Barker, orang yang berperan besar dibalik kesuksesan Taylor Swift, mengacu pada judul buku Jeff Goins 

Seniman yang baik adalah seniman yang tidak kelaparan.

Hal ini pun sebenarnya sekaligus mematahkan mitos bahwa untuk sukses, seorang musisi harus bernaung di bawah perusahaan label rekaman raksasa.

Di Indonesia pun sudah banyak contoh musisi independen yang sukses. Coba bayangkan nama-nama artis terbaik tahun 2018. Siapa nama yang muncul? Raisa dan Tulus (saat itu mereka ada di permukaan bersama dengan Isyana Sarasvati dan Rizky Febian), dua musisi terbesar di Indonesia tahun lalu yang sukses tanpa bantuan perusahaan raksasa.

Selain etos kerja dan manajemen yang baik, tentu saja mereka bisa meraih kesuksesan dengan penggunaan media sosial yang tepat. 

Tahun 2017 seorang musisi asal Amerika, Chance The Rapper meraih penghargaan Artis Pendatang Terbaik Grammy Awards sekaligus Album Terbaik. Ia menyajikan karya-karyanya secara gratis dalam SoundCloud. Sayang sekali entah kenapa, SoundCloud tidak bisa menjangkau semua kalangan di Indonesia.

Padahal itu adalah media sosial yang sangat cocok untuk para penikmat musik, musisi ataupun pendengar. SoundCloud memberi wadah bagi banyak musisi-musisi berbakat yang membutuhkan pemirsa, dan sebaliknya. 

Kembali ke Chance The Rapper, ia memanfaatkan media sosial agar musiknya bisa dapat diakses oleh kalangan luas. Ia tahu bahwa ia bisa bersaing di industri musik dan bisa hidup melalui pemasukannya dari penjualan merchandise, panggung dan hal lainnya. Hal lain yang terpaksa berubah karena perkembangan teknologi.

Musisi yang mengandalkan sumber dana hanya melalui penjualan lagu harus merubah pola pikirnya. 

Seperti yang sudah disebutkan lebih dari satu kali dalam artikel ini, industri musik sudah berubah. Media sosial bisa menggantikan peran media konvensional apabila digunakan dengan benar. Jumlah musik gratis yang bisa dinikmati tidak terbatas. Berikanlah penikmat musik sesuatu yang lebih dari sekadar musik bagus.

Baca Juga:

McDonald’s Dan Spotify Dalam Distribusi Daftar Putar Eksklusif

Tak Mau Kalah Dengan Instagram Dan Facebook, Spotify Uji Coba Fitur Terbaru Mereka Bernama Storyline